Temuan Nama Sapoerahof


 Hasil sampingan penting dari warisan budaya proyek Linken Leggen Lombok (Meletakkan Hubungan Lombok) adalah temuan bahwa nama “Sapoerahof” di pemukiman Lombok di kota Utrecht ditulis salah. Pada saat berjalan-jalan Straatgewijs (Mengikuti Jalan) Bapak Wim Manuhutu, mantan direktur Museum Maluku, mendeteksi bahwa nama dari cabang jalan Molukkenstraat tersebut tidak benar.
Jalan itu diberi nama Saparua sesuai nama pulau di Indonesia. Para pemrakarsa Linken Leggen Lombok, antara lain PACE, mengajukan persoalannya kepada kotamadya. Kotamadya tersebut mengakui bahwa di masa lampau komisi nama jalan telah membuat kesalahan.

Kotamadya mau gantikan nama
Aneh bahwa kesalahan itu baru dideteksi setelah delapan tahun kemudian, demikian kata Chretien Breukers dari Komisi Pemberi Nama Jalan Kotamadya Utrecht. Komisi yang diketuai Ed Hoeboer ini mau mengganti nama tersebut menjadi “Saparuahof”. Tetapi sebelumnya penghuni jalan itu harus menyetujui dulu penggantian nama itu. Saparua merupakan salah satu pulau dari kepulauan Maluku di Indonesia. Pulau tersebut terletak di bagian lain Laut Arafura, dekat Ambon dan luasnya 144 km persegi. Saparua termasuk pulau-pulau di mana cengkeh dibudidayakan. Banyak orang Maluku yang tinggal di Belanda berasal dari pulau ini. 
 Wendy Kremer dan Klaartje Snoeren dari Lombox.nl membuat sebuah film pendek untuk Linken Leggen Lombok yang memperlihatkan reaksi para penghuni pemukiman terhadap penulisan salah nama jalan itu. Film tersebut dapat dilihat di You Tube: Klik di sini.

Sejarah Saparua
Di Saparua dalam tahun 1817 timbul pemberontakan besar melawan pendudukan Belanda yang berhasil ditumpas. Pada 17 Mei 1817 orang Maluku menaklukkan benteng VOC “Duurstede” di pulau tersebut. Dalam pemberontakan yang dipimpin Thomas Matulesia hampir semua orang yang berada dalam benteng terbunuh, antara lain residen baru Johannes van den Bergh. Dari jumlah 378 opsir, bintara dan pasukan di pulau tersebut, 364 orang tertinggal mati tergeletak di medan perang
setelah pertempuran yang berlangsung hanya beberapa jam saja.Menurut penulisan sejarah, Matulesia menembaki “Belanda-Belanda kafir” itu dengan petikan ayat-ayat Injil dan tembakan senapan sundut (musket). Hanya putra residen berumur 6 tahun selamat dari serangan tersebut. Ia ditemukan dalan hutan di Salomon oleh awak kapal fregat Belanda dan selanjutnya diserahkan kepada keluarganya di Batavia (sekarang Jakarta). Matulesia dihormati sebagai raja dan pemimpin rohani oleh penduduk dan diberi nama pahlawan Pattimura (raja muda). Dalam bulan Juni 1817 penjajah Belanda kehilangan muka lagi ketika suatu invasi di bawah pimpinan mayor Beetjes dibantai saat mendarat di Saparua. Kesemua 116 orang tentara yang ikut dalam pendaratan tersebut mati terbunuh.

Pemberontakan ditumpas
Baru dalam bulan Nopember 1817 Laksamana Madya A.A. Buyskens berhasil menumpas pemberontakan di Saparua dalam suatu ekspedisi hukuman. Ia memperkuat pemerintahan di
kepulauan Maluku. Matulesia digantung di muka umum pada tanggal 16 Desember 1817 di benteng Victoria di Ambon. Sampai akhir hayatnya Matulesia bersikap sopan, sambil berdiri di bawah tiang gantung, ia mengucapkan kata-kata legendarisnya: “selamat tinggal, tuan-tuan”.
 Putra residen yang dibunuh, Jean Lubbert, dalam tahun 1821 dibawa ke kakek-neneknya di Negeri Belanda. Kakeknya begitu senang atas penyelamatan cucunya sehingga dalam tahun 1821 ia menghadiahkan sebuah organ kepada Gereja Nicolaas di Wijhe. Sampai sekarang semua keturunan anak tersebut boleh secara resmi menamakan diri “Van den Berg dari Saparua”. 
 Di Indonesia setiap tahun pada 15 Mei masih juga diperingati pemberontakan terhadap pendudukan Belanda dalam tahun 1817 tersebut. Matulesia dimuat dalam panteon para pahlawan nasional dan gambarnya terlihat pada perangko dan uang kertas Indonesia. Juga bagi orang Maluku di Negeri Belanda Pattimura merupakan pahlawan kemerdekaan yang telah membela kepentingan penduduk
http://www.papuaerfgoed.org/id/node/21642

0 komentar:

Posting Komentar